Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan masa, yang di dalamnya ada orang yang merugi dan ada yang beruntung. Dan betapa relatifnya dunia yang hakikatnya berada di bawah kekuasaanNya, bila-bila saja dia mampu menenggelamkan beberapa kampung dengan bergeraknya tanah yang selama ini kita pijak, dan bila-bila jua Dia berhak menentukan saat berakhirnya nadi kehidupan dalam sekujur tubuh yang asalnya dari tanah, untuk kembali semula kepada tanah.
Nadi, hanya menghasilkan denyut apabila unsur air dalam tubuh itu bergerak. Dan barulah manusia, yang secara saintifiknya lebih 70% terdiri dari air itu dapat dikatakan hidup. Dia, yang saya nukilkan sebagai tajuk tulisan hari ini adalah saya, dan benarlah dia masih hidup. Alhamdulillah. Hari ini sudah lebih 23 tahun dia menghirup udara di Bumi Allah tanpa biaya sedikitpun. Benarlah, nikmat yang paling berharga biasanya kita dapatkan secara cuma-cuma, tidak berbayar, gratis! Udara, air, masa lapang, kesihatan adalah antara hal esensial yang kita peroleh semenjak pertama kali kita lahir ke dunia, pasrah tanpa kita minta dan tanpa bekalan apa-apa.
Dia masih hidup, bukanlah sekadar pernyataan malah juga suatu penegasan. Dan ia timbul dengan risiko, bahawa dia juga akan mati. Tulisan ini mungkin anda baca pada saat dia masih hidup, dan dengan izin Allah suatu hari nanti anda akan membacanya pada saat dia telah tiada. Saya terkenang ucapan emak pada ulangtahun hari lahir saya kali ini, antaranya beliau berdoa semoga saya panjang umur dan bertemu seorang isteri yang solehah. Saya membalas, mengharapkan juga usia emak dipanjangkan. Beliau malah menambah, semoga sempat melihat cucu cicitnya membesar kelak. Tidurlah, dah lewat ni, saya cuba berbisik menyembunyikan sebak. Saya sedar, tulisan ini dan mungkin keseluruhan hidup saya selalu saja berkaitan dengan diri saya. Padahal si Zulfadli ini lahir ke dunia tanpa apa-apa, malah mengharapkan bantuan orang yang mengasihaninya untuk tetap berdiri di dunia nyata. Jadi mustahil kehidupannya hanya berkisar soal dia.
Tulisan kali ini hadir dengan suatu azam yang teguh agar dia terus bergerak, menghidupkan dirinya bersama mereka yang mengasihaninya, selama mana nyawa masih dikandung badan. Dan akhirnya, dia mengajak kita bersama merefleksikan ayat dari Sang Pencipta, buat tatapan Kaca Mata Sang Pelajar. Syukurlah, sang pelajar telah kembali, dan dia masih hidup.
P/s: terharu sekian kalinya dengan ucapan SMS sahabat bernama Ahmad Naim, yang berkata: "Li, slmt hari kelahiran ke 23. Dah maken dekat dgn Allah saban hari. Semoga li dpt kepulangan yang diredhai, iA.."
Click to read more...
Nadi, hanya menghasilkan denyut apabila unsur air dalam tubuh itu bergerak. Dan barulah manusia, yang secara saintifiknya lebih 70% terdiri dari air itu dapat dikatakan hidup. Dia, yang saya nukilkan sebagai tajuk tulisan hari ini adalah saya, dan benarlah dia masih hidup. Alhamdulillah. Hari ini sudah lebih 23 tahun dia menghirup udara di Bumi Allah tanpa biaya sedikitpun. Benarlah, nikmat yang paling berharga biasanya kita dapatkan secara cuma-cuma, tidak berbayar, gratis! Udara, air, masa lapang, kesihatan adalah antara hal esensial yang kita peroleh semenjak pertama kali kita lahir ke dunia, pasrah tanpa kita minta dan tanpa bekalan apa-apa.
Dia masih hidup, bukanlah sekadar pernyataan malah juga suatu penegasan. Dan ia timbul dengan risiko, bahawa dia juga akan mati. Tulisan ini mungkin anda baca pada saat dia masih hidup, dan dengan izin Allah suatu hari nanti anda akan membacanya pada saat dia telah tiada. Saya terkenang ucapan emak pada ulangtahun hari lahir saya kali ini, antaranya beliau berdoa semoga saya panjang umur dan bertemu seorang isteri yang solehah. Saya membalas, mengharapkan juga usia emak dipanjangkan. Beliau malah menambah, semoga sempat melihat cucu cicitnya membesar kelak. Tidurlah, dah lewat ni, saya cuba berbisik menyembunyikan sebak. Saya sedar, tulisan ini dan mungkin keseluruhan hidup saya selalu saja berkaitan dengan diri saya. Padahal si Zulfadli ini lahir ke dunia tanpa apa-apa, malah mengharapkan bantuan orang yang mengasihaninya untuk tetap berdiri di dunia nyata. Jadi mustahil kehidupannya hanya berkisar soal dia.
Tulisan kali ini hadir dengan suatu azam yang teguh agar dia terus bergerak, menghidupkan dirinya bersama mereka yang mengasihaninya, selama mana nyawa masih dikandung badan. Dan akhirnya, dia mengajak kita bersama merefleksikan ayat dari Sang Pencipta, buat tatapan Kaca Mata Sang Pelajar. Syukurlah, sang pelajar telah kembali, dan dia masih hidup.
"Wahai manusia! Jika kamu meragukan hari kebangkitan, maka sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadinnya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; Dan Kami tetapkan dalam rahim menuru kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian sampai kepada usia dewasa dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu ada yang dikembalikan sampai usia sangat tua, sehingga dia tak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya..."
(Surah al-Hajj, 22: 5)
P/s: terharu sekian kalinya dengan ucapan SMS sahabat bernama Ahmad Naim, yang berkata: "Li, slmt hari kelahiran ke 23. Dah maken dekat dgn Allah saban hari. Semoga li dpt kepulangan yang diredhai, iA.."







